Internet, Mengubah Pandangan Masyarakat Terhadap Dunia Bisnis di Indonesia


Pandangan masyarakat terhadap dunia bisnis di Indonesia ternyata sudah mulai berubah. Paling tidak sekarang anak kuliah kalau mau bilang selesai kuliah mau jadi seorang pengusaha, orang tuanya ga bakalan menolak. Beda banget waktu gue baru lulus kuliah trus pengen mulai ngikut jalan orang tua yang wiraswasta.

Saat anda ingin memulai bisnis sendiri pasti banyak yang menentang niat anda tersebut. Mulai dari istri, orang tua bahkan mungkin orang yang baru anda kenal.

Saya pun mengalami penolakan tersebut beberapa waktu yang lalu. Di atas motor honda revo 2010 yang saya kendarai ditengah kemacetannya kota Jakarta yang semakin parah, saya coba menghilangkan suntuk dengan bertanya,

“yang, aku boleh ga aku fokus bisnis online.”

“gak!” jawaban istri saya yang berada dibelakang. Ia pun melanjutkan, “bisnis online kamu cuma buat nambah-nambah, bukan buat diseriusin.”

Saya diam saja habis mendengar jawaban telak dari istri. Kalau dilanjutin bisa-bisa perang dingin terjadi di tengah perjalanan hingga keesokan harinya. Jawaban dari istri saya tersebut menambah jumlah orang-orang terdekat saya yang menentang keinginan saya memulai bisnis sendiri. Walaupun hanya sebatas bisnis online yang berarti tidak harus memiliki modal yang sangat besar, tapi tetap saja orang-orang terdekat saya lebih mengarahkan saya untuk menjadi seorang karyawan daripada seorang pebisnis.

Menurut pandangan saya orang-orang disekitar saya menolak niatan saya menjadi seorang pebisnis karena tiga hal berikut:

  1. Modal. Siapa pun (bahkan termasuk saya) pasti berpikir kalau untuk bisnis itu butuh modal uang. Jumlahnya pun cukup besar. Untuk belanja modal seperti stok produk saja itu butuh modal uang. Contoh bisnis jual beli buku yang saya rintis saat ini. Modal awalnya saja bisa 750 ribu rupiah. Kemudian untuk pemasaran dengan iklan TopAds dari tokopedia sebesar 25 ribu yang saya dapatkan dengan berlangganan Gold Merchant. Atau jika tidak harus stok sendiri dan melakukan bisnis secara dropship modal yang harus dikeluarkan adalah 250 ribu rupiah sebagai deposit kepada penerbit.
  2. Pasar. Sebuah bisnis tidak akan jalan jika tidak menemukan pasar. Inti dari bisnis yang saya tangkap adalah memberikan kebutuhan dari orang lain. Untuk menemukan orang yang butuh produk atau layanan yang ditawarkan saya harus mencari pasar. Saat ini dengan adanya internet pasar tersebut bisa diciptakan. Setidaknya dengan menggunakan seo tool
  3. Jaringan. Saya bukan orang yang pandai bersosialisasi. Tapi saya bukan orang yang sombong, hanya saja saya orang yang sulit untuk membuka sebuah percakapan dengan orang baru. Jika tidak bisa membuka percakapan dan tentu akan sulit memasarkan produk/layanan? Ilmu pemasaran yang paling tokcer tetap word of mouth, bagaimana produk dan layanan dibicarakan oleh orang lain dan menimbulkan brand awareness di calon pembeli atau calon pelanggan. Makanya kalau anda perhatikan seorang marketing, kebanyakan orangnya senang bicara.

Mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah pengantar bisnis tentu tahu lebih banyak alasan-alasan lain mengapa kita harus mengembangkan dan mulai menekuni profesi bisnis? Lebih pahamlah dari saya yang hanya belajar soal bisnis dari artikel-artikel yang diterbitkan di internet. Dengan memulai bisnis berarti kita sudah memberi manfaat kepada lingkungan terkecil, dan itu keinginan saya.

Menurut beberapa praktisi bisnis yang saya baca buku-bukunya tingkat kemiskinan di Indonesia bisa dikurangi dengan memperbanyak wirausahawan. Tidak usah berkhayal terlalu jauh mempunyai bisnis besar seperti korporasi, dimulai dengan tidak menjadi beban bagi orang-orang disekitar pun sudah bisa.

Jika bisnis kecil tersebut berkembang bukan tidak mungkin manfaatnya akan terasa untuk orang-orang di sekitar. Paling tidak orang-orang terdekat yang belum memiliki pekerjaan akan bisa terbantu dengan bisnis kecil-kecilan saya. Dewa Eka Prayoga di buku easy copywriting yang baru saya baca baru-baru ini mengajari saya agar bisnis yang sedang kita jalani agar bisa bermanfaat bagi orang banyak. Salah satu manfaat dari mulai terjun di dunia bisnis adalah mengurangi pengangguran di negeri tercinta ini.

Saat ini ada beberapa bisnis yang ingin saya coba selain jual beli buku secara online. Belajar dari pengalaman bisnis pertama tersebut saya mulai mengevaluasi dan membuat kalkulasi dan strategi yang lebih matang agar bisnis tersebut tumbuh. Kalau bisnis tidak tumbuh tujuan untuk tidak jadi beban orang lain tentu akan sulit terwujud. Jika masih menjadi beban orang lain tentu cita-cita untuk bermanfaat dengan membuat pekerjaan untuk orang-orang sekitar saya (yang kebetulan juga kebanyakan lulusan pendidikan tinggi) bakal jauh dari harapan.

Situs Indonesia investment mengutip data Badan Pusat Statistik tahun 2016 bahwa dari 127.8 juta jiwa penduduk Indonesia yang bekerja, ada 7 juta jiwa yang menganggur. Di Indonesia sudah ada ribuan pengangguran terdidik setiap tahunnya yang belum bisa masuk ke sebuah bidang pekerjaan. Dulu orang tua saya mengatakan bahwa dengan modal ijazah sarjana (S-1) saya bisa memiliki penghasilan yang tinggi. Mungkin maksudnya lebih tinggi dari penghasilan orang tua saya yang tamatan sekolah menengah.
Maksud dari orang tua tentu saja baik dan berkat doa dan usaha beliau saya akhirnya bisa bekerja di salah satu perusahaan milik orang terkaya di Indonesia. Akan tetapi setelah menjalani profesi sebagai karyawan saya merasa ada yang membuat saya tidak nyaman.

Yang tidak enaknya menjadi karyawan itu begini

  • Pemasukan pasti tiap bulan, tapi lebih kecil dibandingkan pemilik perusahaan
  • Waktu untuk keluarga digerus oleh kepentingan perusahaan. Lagi enak-enak main sama anak tiba-tiba harus meninggalkan kegiatan untuk mengerjakan tugas yang diserahkan.
  • Tidak ada waktu untuk diri sendiri. Maksudnya ide-ide kreatif yang dimiliki dibenturkan dengan birokrasi dan penilaian subjektif atasan.
  • Bonus dan tunjangan tidak sama, posisi sama-sama staf tapi saya tidak pernah dapat bonus dan tunjangan komunikasi seperti teman lain.
  • dan masih banyak lagi…

Makanya saya meskipun secara full-time saya tidak bisa menjalankan bisnis yang saya inginkan, paling tidak bisnis yang saya mulai dapat menjadi sebuah investasi jangka panjang saya ketika masa pensiun datang.

Kalau anda lihat orang-orang pensiunan baik yang bekerja di instansi atau lembaga pemerintah, di korporasi besar atau di perusahaan kecil, mereka mengalami keterkejutan budaya. Jika biasanya jam 5 pagi harus bangun lalu bersiap ke kantor terus menunggu waktu pulang selama 20 atau 30 tahun lamanya, pasti saat pensiun ada hal yang berbeda terasa. Saya sendiri pernah mencoba untuk cuti selama satu minggu dan nikmat yang saya rasakan hanya sampai dua hari.

Bayangkan saja kalau pensiun yang artinya tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan setelah masa-masa rutin tersebut berlalu.

Makanya saya memulai untuk berbisnis secara online.

Karena background pendidikan saya Sastra Inggris, maka saya memulai bisnis jual beli buku dengan memanfaatkan e-commerce yang sudah mapan seperti tokopedia maupun bukalapak. Ada keuntungan yang saya dapatkan dengan memanfaatkan website tersebut. Bisnis jual buku yang saya mulai akhir Desember 2016 lalu pelan-pelan memperlihatkan hasil yang positif.

Meskipun saya perjalanan bisnis pertama ini cukup bagus tapi ada beberapa kendala yang saya temui. Seperti saat dua website e-commerce tersebut sama-sama tumbang tanpa alasan beberapa bulan lalu. Otomatis usaha saya juga mandeg. Untungnya persoalan tersebut tidak berlangsung lama. Hanya saja efeknya masih terasa.

Kedepannya saya berencana untuk membuat toko online sendiri entah itu dengan memanfaatkan software toko online seperti jejualan atau dengan menggunakan plugin wordpress seperti woocommerce.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, berusaha untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia dengan membuat program ekonomi kreatif. Salah satu program yang dijalankan adalah dengan memberikan 1 juta domain DOT ID (baca: ai di). Program satu juta domain dot id ini pun tidak hanya memberikan domain tetapi juga hosting gratis. Peserta tidak hanya diberikan domain dan hosting tetapi juga pelatihan untuk memulai bisnis melalui internet yang diselenggarakan oleh provider yang telah bekerja sama dan ditunjuk oleh KOMINFO.

Saya pernah mencoba mendaftar di program satu juta domain dot id tersebut. Saya cukup beruntung dengan terpilih menjadi salah satu peserta yang mendapatkan domain dan hosting gratis untuk membuka toko online. Sayang saya harus melepaskan kembali toko online pemberian Pemerintah Indonesia tersebut karena saya kesulitan untuk melakukan pengaturan website.

Menurut saya langkah efektif untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap dunia bisnis adalah dengan memberikan bukti. Orang cenderung untuk mengikuti langkah orang-orang yang telah berada di puncak kesuksesan. Jangan seperti beberapa kasus MLM. Tampilan wah tetapi nyatanya hidup penuh dengan penderitaan dan hutang.

Pandangan masyarakat terhadap dunia bisnis yang masih negatif, meskipun jalan untuk menapakinya sudah dipermudah, menurut saya dikarenakan ada beberapa faktor.

  1. Masyarakat masih percaya kalau dunia bisnis hanya milik kelompok etnis tertentu,
  2. Masuk ke dunia bisnis akan mengubah karakter seseorang menjadi agresif
  3. Selain mengubah karakter menjadi agresif orang yang merasa bisnisnya berkembang akan melakukan pengembangan ke bidang lain yang belum ia jalankan (ekspansif).
  4. Orang yang berada di dunia bisnis pastinya suka bersaing (kompetitif)
  5. Agar bertahan di industri bisnis yang dijalankan pelakunya hanya memikirkan diri sendiri (dan orang terdekat) atau egois
  6. Pelaku bisnis memiliki sifat tidak jujur
  7. dan yang paling penting dari semua hal yang saya sebutkan diatas, penghasilan yang tidak stabil

Untuk poin pertama pandangan masyarakat terhadap dunia bisnis diperkuat dengan data dari majalah Forbes yang rajin memperbaharui 100 orang terkaya di Indonesia. Hampir 90% daftar orang terkaya di Indonesia didominasi kalangan etnis Cina. Jika ada satu atau dua orang yang baru di dalam daftar tersebut maka orang terkaya tersebut hampir semua merupakan keturunan langsung dari daftar orang terkaya yang sudah ada.

Bahkan ada ungkapan jika pribumi menjalani bisnis hendaknya ia belajar dari komunitas tersebut.

Hanya beberapa orang yang tidak memiliki keturunan etnis Cina yang berhasil masuk ke daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes tersebut. Beberapa diantaranya adalah Chairul Tanjung, Sandiaga Uno, Erick Tohir, dan beberapa nama pebisnis lainnya.

Kisah-kisah orang terkaya di Indonesia yang bukan dari etnis tertentu ini sangat menarik untuk dibaca dan diteladani. Dan kisah-kisah jatuh bangun para pengusaha terkaya di Indonesia ini menjadi sebuah pelajaran bagi saya untuk memulai berwirausaha. Salah satu buku biografi orang terkaya di Indonesia yang saya rekomendasikan adalah buku biografi Chairul Tanjung, Anak Singkong.

Buku referensi pebisnis

Buku biografi dari pemilik grup CT Corpora ini akan membuat anda semakin termotivasi untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap dunia bisnis. Bisnis bagi Chairul Tanjung tidak hanya untuk mengumpulkan pundi-pundi uang tetapi agar bermanfaat bagi bangsa dan negaranya. Makanya cabang Carrefour di Indonesia dibeli oleh orang terkaya di Indonesia ini. Carrefour tidak hanya dipandang sebagai ekspansi bisnis semata tetapi sebagai sebuah ladang yang dapat dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia.

Sebagian dari masyarakat kita melihat konglomerat seperti CT (panggilan Chairul Tanjung) dengan sudut pandang yang berbeda. CT dianggap terlalu agresif dalam mengembangkan bisnis yang dimilikinya. Padahal masyarakat kita menjauhi sikap agresif ini. Sikap ini dianggap sebagai sebuah karakter yang tidak elok.

Padahal sikap agresif seperti yang ditunjukkan oleh CT dalam mengembangkan kelompok usahanya tidak salah. Anak bangsa ini tidak hanya diajarkan untuk sabar dan tenang tetapi juga diajarkan untuk berjuang demi sebuah perubahan di kehidupan mereka.

Dengan internet yang semakin mudah di akses, posisi CT sebagai salah seorang terkaya di Indonesia bisa dicapai. Tidak sedikit milyuner Indonesia yang mulai masuk ke daftar orang terkaya dengan memanfaatkan internet yang mulai mudah diakses oleh setiap penduduk di pelosok negeri ini. Contohnya ustadz Yusuf Mansur dengan produk Paytren.

Konsep paytren menurut saya sangat sederhana. Dengan menggunakan layanan keuangan seperti escrow bank tersebut kita yang biasa membayar tagihan tidak akan kekurangan uang tetapi bisa mendapatkan penghasilan dengan rutinitas tersebut. Sebuah konsep sederhana namun pasti pelik dalam membuat skema awalnya. Apalagi dengan sistem seperti multi level marketing dimana member get member merupakan mekanisme yang digunakan dalam pemasaran produk ini.

Ustadz yang dikenal sebagai pencetus dari hari sedekah nasional ini pun tidak lupa mengingatkan kepada para Paytrener, sebutan untuk pengguna paytren, agar menyisihkan pendapatan yang dihasilkan dari setiap transaksi menggunakan layanan tersebut untuk sedekah.

Melihat langkah dan penerimaan masyarakat terhadap layanan Paytren ini saya mengambil pelajaran penting untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap dunia bisnis:

  • bisnis bermanfaat untuk masyarakat, benar-benar terasa manfaatnya
  • setelah mendapatkan manfaat dari masyarakat, kembalikan lagi kepada masyarakat

Seperti CT maupun Yusuf Mansur sama-sama menginginkan untuk lebih mengembangkan bisnisnya masing-masing. Di instagram resmi Ustadz Sedekah ini mengumumkan jika paytren sedang meniti jalur untuk ekspansi ke belahan dunia lain. Belgia menjadi salah satu tujuan dari ekspansi ini.

Bagi orang yang berada di zona nyaman, sikap ekspansif ini tentu tidak menyenangkan. Tapi bagi orang-orang yang berkarakter kuat seperti CT dan YM berada di zona nyaman terlalu lama justru menjadi siksaan bagi mereka. Apakah salah jika ingin melakukan ekspansi bisnis?

Kalau menurut saya tidak salah sama sekali. Justru dengan ekspansi yang dilakukan maka manfaat dan tujuan dari membangun sebuah bisnis akan tercapai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s