Hanya 2 Menit Kata Ippho Santosa Untuk Mengetahui Potensi Rezeki Saya


buku novel hanya 2 menit ippho santosa
Pengarang Ippho Santosa
Penerbit PT. Elex Media Komputindo
ISBN 978-602-00-1990-1

Buku Hanya 2 Menit dari Ippho Santosa sudah lama diam di kardus tempat buku-buku saya tersimpan. Dua hari yang lalu saya kembali buka kardus tersebut dan kembali membaca tulisan motivasi dari pengusaha sekaligus motivator kondang Indonesia ini. 
Sebenarnya membaca buku Hanya Dua Menit karya Ippho Santosa akan terasa kurang. Apalagi jika anda berniat untuk memulai berbisnis sendiri. Selain buku Hanya 2 Menit, anda perlu membaca buku Ippho Santosa 7 Keajaiban Rezeki dan juga 10 Jurus Terlarang.
Saat memulai membaca buku Hanya 2 Menit, Ippho Santosa langsung membangunkan anda dengan memberikan tiga baris kosong yang harus anda isi. Pertanyaannya simpel saja, Apa yang ingin anda capai tahun ini?

Dalam menjawab tiga pertanyaan tersebut anda tidak hanya menuliskan keinginan-keinginan anda sendiri tetapi juga jangka waktu pencapaian dari keinginan tersebut. Menurut Ippho dengan memberikan tenggat waktu untuk tiga daftar keinginan yang anda tulis maka secara tidak sadar akan membuat rencana agar tujuan itu tercapai.

Setiap tahun kita selalu dihebohkan dan diingatkan untuk membuat resolusi awal tahun. Dan hampir setiap tahun pula anda akan melihat banyak keinginan anda yang belum terpenuhi. Masalahnya mungkin terletak pada keinginan anda yang banyak tersebut, makanya cukup tiga saja dulu setelah tiga itu tercapai baru anda capai keinginan yang lainnya.

Di detik-detik pertama Ippho akan merubah mindset anda agar resolusi anda tercapai.

Setelah punya istri dan sekarang mempunyai anak yang lucu, saya menyetujui pendapat uda Ippho Santosa dalam bukunya Hanya 2 Menit. Dulu sebelum menikah saya mempunyai pemikiran seperti “Biar miskin asal bahagia” atau “Saya dikasih dong! Saya gratis dong!” Ternyata setelah menikah ada beberapa kejadian yang membuat saya harus berpikir ulang tentang mindset tersebut.
Kejadian pertama adalah saat istri saya bersalin. Dari kantor saya mendapatkan asuransi kesehatan yang juga mengkover biaya persalinan (normal atau bedah). Tapi klinik dimana istri selalu saya bawa untuk konsultasi tidak memiliki jaringan kerjasama dengan perusahaan asuransi dari perusahaan. Alhasil jika saya seharusnya tidak perlu memikirkan biaya persalinan jadi bingung dari mana saya akan mendapatkan biaya untuk persalinan anak pertama. 
Alhamdulillah, istri punya simpanan yang cukup. Simpanan yang ia kumpulkan semenjak gadis hingga menjadi pasangan hidup saya saat ini. Dari simpanan tersebut biaya persalinan bisa ditutup. Dengan sistem reimburse, biaya persalinan anak pertama saya yang dikeluarkan istri saya ganti. Saat itu saya bermenung sembari menyesal kenapa saya tidak dari dulu mulai menapaki jalan sukses para internet marketer maupun publisher adsense. Jika usaha online para imers dan publisher tersebut saya ikuti, mungkin (mungkin ya) saya tidak perlu mengganggu simpanan uang istri saya.
Dalam setiap pengajian saya selalu mendapatkan pelajaran jika seorang muslim harus hidup sederhana. Pengertian kata sederhana yang diserap oleh saya (dan mungkin saja anda) adalah berpakaian tidak bermerek tapi rapi, asal bisa makan, asal tidak punya utang, dan lain-lain. Tetapi di buku Hanya 2 Menit, Ippho Santosa membuka wawasan saya tentang pengertian kata sederhana ini. 
Ia mencontohkan sahabat sekaligus menantu nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib ra. Ali sering disebut-sebut sebagai kerabat nabi yang miskin. Pendapat ini diluruskan oleh Ippho. Ali bin Abi Thalib ra. justru seorang yang sangat kaya. Dalam kitab Akhbarul Madinah dan kitab Mu’jam Maa Ustu’jima disebutkan jika Ali bin Abi Thalib memiliki 7 mata air. Beliau ra. juga memiliki benteng, rumah dan lahan pertanian yang luas hasil dari perang Khaibar.
Dengan kekayaan yang ia punyai kenapa Ali ra. mendapat gelar Abu Masakin, bapaknya orang miskin? Ippho Santosa menyebutkan jika gelar tersebut bukan karena Ali ra. miskin secara finansial tetapi ia menjadi pengayom bagi orang-orang miskin. Dikisahkan tak jarang khalifah keempat ini membagikan makanannya sendiri kepada orang lain yang membutuhkan, ia lalu berpuasa. (halaman 20)
Dari kisah tentang Ali bin Abi Thalib tersebut saya menjadi tersadar jika umat muslim, khususnya saya, harusnya kaya. Limpahan harta tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi memberikan manfaat kepada orang lain yang membutuhkan. Saya pribadi mempunyai impian di tahun 2017 ini
  1. Menjadi Penjual Buku Yang Mampu Menjual 1000 buku di tahun 2017
  2. Dua blog saya mendapatkan kunjungan 1000 orang per hari dan mendapatkan langganan 
  3. Membeli sebuah ruko untuk toko fisik di sekitar rumah

Menyikapi kekayaan, itu yang saya dapatkan ketika membaca buku Hanya 2 Menit untuk kedua kalinya ini. Dan dengan kondisi yang berbeda saya mendapatkan jika tulisan-tulisan Ippho lebih terasa. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s