Buku Agar Bidadari Cemburu Padamu, Sebuah Pesan Bagi Wanita dan Penjaganya


buku abang salim a fillah berjudul agar bidadari cemburu padamu
Cover Buku Agar Bidadari Cemburu Padamu
Judul Agar Bidadari Cemburu Padamu
Penulis Salim A. Fillah
Penerbit Pro-U Media
Cetakan X / November 2007
Tebal 254 halaman
ISBN 979-98151-1-8

Buku yang ditulis oleh ustadz Salim A. Fillah ini khusus membahas tentang wanita. Meskipun penulis adalah seorang laki-laki pembahasan yang disampaikan oleh Salim A Fillah tidak hanya diperuntukkan untuk kaum wanita saja. Buku ini ditulis oleh Salim A. Fillah agar bisa dibaca oleh para ayah, abang, adik laki-laki, dan suami. Dengan membaca buku ini tidak hanya anda mengenal bagaimana hakikat seorang wanita tetapi juga memahami dan memenuhi kewajiban-kewajiban anda sebagai pelindung makhluk yang bernama wanita.
Pentingnya tugas dari kaum lelaki untuk melindungi wanita yang menjadi tanggung jawabnya dibahasakan dengan indah oleh penulis dengan mengutip sebuah syair (halaman 7)

Bukan dari tulang ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri
Dekat dihati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi

Sebagaimana diajarkan oleh agama-agama besar di dunia, wanita awalnya diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bernama Adam. Tulang rusuk merupakan tulang yang rapuh dan ditakdirkan bengkok. Pesan nabi SAW sebagaimana di tulis dalam buku ini, wanita harus selalu diberi nasehat. Jangan biarkan ia bengkok (menyimpang dari tujuan sebagai wanita dan manusia yang wajib tunduk pada aturan Allah) tapi jangan pula meluruskan dengan paksa karena tulang rusuk itu akan patah.

Coba kita lihat bagaimana wanita begitu dipuja seakan-akan dibuat dari tulang ubun. Ada banyak model iklan dimana wanita menjadi brand ambasadornya. Bahkan ketika produk tersebut sebenarnya bukanlah diperuntukkan untuk kaumnya.

Di kehidupan yang kita bilang modern saat ini membuat secara tidak sadar memaksa wanita untuk kembali terkekang dalam batas-batas yang ditetapkan oleh masyarakat jahiliyah dahulu. Memang wanita tidak langsung dibunuh ketika lahir akan tetapi orang tua yang dititipkan perhiasan dunia (baca: anak berjenis kelamin perempuan) seringkali memberikan pendidikan yang membuat anak-anak wanita harus kembali ke kondisi yang mengekang.

Contohnya saat ini banyak wanita yang berlomba-lomba untuk menjadi titik perhatian khalayak. Mempunyai tubuh ramping (mendekati kurus), mata besar, bibir mungil berwarna merah, dengan kulit mulus berwarna putih merupakan standar seorang wanita yang ideal di masyarakat jahiliyah modern saat ini. Mereka yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dipuja dan disanjung sedemikian rupa hingga terkadang merasa mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan tanpa ada batasan.

Pengarang mengajak pembaca untuk mencari sebuah buku tentang bagaimana wanita diperlakukan di zaman jahilliyah baik di Arab, Eropa, maupun Asia. Semua tergambar, menurut pengarang, di buku karya KH Moenawar Chalil berjudul Nilai Wanita.

Penulis juga mengutip sebuah novel yang berjudul Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela yang menggambarkan suasana negara Jepang di tahun 1940-an. 

Totto-chan heran. Belum pernah ia mendengar ada orang berkata anak laki-laki harus menghargai perempuan. Setahunya, anak laki-lakilah yang terpenting. Dalam keluarga-keluarga yang ia tahu anaknya banyak, anak laki-laki selalu dilayani lebih dulu waktu makan dan saat minum teh sore. kalau anak-anak perempuan memprotes, ibu mereka akan berkata, “Anak perempuan hanya untuk dipandang, bukan untuk didengar!”

Didalam kutipan kisah Totto-chan tersebut digambarkan bagaimana seorang perempuan di masyarakat Jepang. Wanita hanya untuk dipandang dan pendapatnya tidak akan didengarkan. Apakah saat ini situasi tersebut masih berlaku? Sayang sekali jawabannya adalah IYA. Coba saja anda perhatikan disekeliling anda, lebih banyak mana model iklan yang digunakan, Pria atau Wanita?
Bahkan iklan produk yang target marketnya bukan perempuan, model iklan yang digunakan tetap perempuan. 
Ketika saya kuliah pembahasan tentang gerakan pembebasan kaum perempuan merupakan topik yang sangat menarik untuk dibahas di dalam kelas perkuliahan. Hanya saja pandangan yang digunakan untuk membahas pembebasan wanita tersebut sering menggunakan pandangan masyarakat non muslim yang tidak sesuai dengan karakter masyarakat muslim.
Bahkan pelopor pembebasan wanita di Indonesia, R.A. Kartini dalam sebuah suratnya dengan noni Belanda menyatakan, “… tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, yang tiada taranya. Maafkan kami. Tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkan Ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang baik dan indah dalam masyarakat Ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban? (halaman 33).
Penulis membahas secara ringkas bagaimana pandangan masyarakat “modern” terhadap konsep Islam terhadap wanita. Sebagaimana telah diketahui secara umum setidaknya ada 3 hal yang selalu dibahas oleh penggerak Feminis terhadap konsep wanita di dalam Islam yaitu Soal Kepemimpinan, Hak Waris, dan Tentang kurangnya Akal dan Agama.
(bersambung)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s