Membuat Toko Online Sendiri Dengan Mudah Dengan JeJualan


Membuat toko online sendiri kalau tidak punya basic di teknologi informatika pastinya akan membuat Anda pusing tujuh keliling. Walaupun di internet Anda menemukan ratusan artikel tentang cara membuat website toko online sendiri dan mempraktekkan langkah-langkah yang ada didalamnya. Tapi hasilnya Anda bukan mulai berjualan tapi sibuk belajar hal-hal teknis tentang website toko online.

Pernah merasakan hal ini?

Semoga saja Anda yang mulai berpikiran untuk membuat toko online sendiri bisa belajar dari pengalaman saya. Karena kisah diatas adalah pengalaman saya sendiri saat memulai bisnis secara online.

Saya sudah lama memulai membangun website pribadi dengan alamat pencaricerah.com. Hingga saat ini trafik website saya tersebut bisa dibilang cukup baik. Paling tidak untuk maintain hosting sudah ga perlu keluar duit dari kantong sendiri.

Baca juga: Buat Toko Online Gratis Selamanya? Beneran Ada?

Saya pernah mencoba membuat toko online dengan memanfaatkan facebook. Syaratnya mudah kok yang penting buat akun fans page dulu. Setelah itu Anda bisa membaca cara membuat toko online di facebook. Karena tingkat engagement di fan page saya kurang, penjualan dengan menggunakan fitur toko di facebook juga tidak maksimal.

Karena saya sudah memiliki website pribadi dan jumlah kunjungan rata-rata sehari lebih dari 500 visitor, saya coba untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjual produk langsung.

Menurut sebuah website belajar bisnis online yang saya baca, menggantungkan monetisasi dengan mengandalkan adsense atau wordads bukanlah sebuah keputusan yang bijak. Dan nasehat itu benar.
Software Website Toko Online
Seperti kebanyakan rekan-rekan blogger lainnya selama ini saya cuman mengandalkan iklan dari adsense dan juga wordads untuk menambah penghasilan. Setelah beberapa tahun penghasilan adsense belum bisa saya nikmati sedangkan wordads cukup untuk bayar hosting, saya pun berpikir untuk mengikuti saran Mas Darmawan, si pemilik panduanim.com, untuk menambah monetisasi website dengan cara menjual produk langsung.

Paling tidak persyaratan untuk itu sudah bisa terpenuhi. Dalam artikel panduaim ini, syarat untuk website yang bisa menjual produk secara online setidaknya memiliki visitor > 500 per harinya.

Untuk mengurangi cost, maka saya memilih untuk membuat toko online sendiri dengan menggunakan plugin woocommerce yang sedang populer. Jadi saya baca-baca artikel cara membuat toko online dengan wordpress.

Disinilah permasalahannya.

Meskipun secara teori artikel yang saya baca tersebut sangat mudah diaplikasikan tetapi ada beberapa bagian dari plugin wordpress tersebut harus saya modifikasi.

Modifikasi pertama yang harus saya lakukan adalah pada bahasa pengantar. Secara default bahasa pengantar plugin woocommerce saya menggunakan bahasa Inggris. Padahal visitor saya rata-rata berbahasa Indonesia walaupun kalau dilihat dari statistik visitor terbanyak ke dua berasal dari Amerika Serikat.

Modifikasi kedua adalah pengaturan kurir dan ongkos kirim yang nantinya terakumulasi di harga produk. Secara default plugin woocommerce bisa memberikan hal ini dengan cara melakukan update satu per satu ongkos kirim per kurir dan per region. Tapi jika diinput satu per satu ongkos kirim per region dan juga per kurir pekerjaannya bakal lama.

Solusinya, pasti meng-gunakan plugin. Menggunakan wordpress tidak lepas dari plugin. Dan plugin woocommerce untuk ongkir dan kurir di Indonesia harus berbayar (kalau mau tenang-tenang aja alias fokus jualannya).

Kalau potensi keuntungan belum tergambar, membeli plugin tambahan untuk woocommerce ini tentu membuat saku semakin bolong.

Oleh karena itu saya akhirnya memutuskan untuk melupakan membuat toko online sendiri dan memutuskan untuk menggunakan marketplace seperti tokopediabukalapak, dan shopee.

Alhamdulillah hingga hari ini saya bisa mendapatkan hasil yang riil dari penjualan produk. Akan tetapi saya masih merasa kurang maksimal dalam melakukan penjualan.

Kekurangan yang saya rasakan berasal dari pelacakan pembelian produk yang terdapat di beberapa marketplace diatas. Saya tidak bisa melacak pembeli berasal dari website atau pembeli berasal dari marketplace. Seperti di tokopedia.com, jika saya melihat statistik penggunaan topAds beberapa kali saya menemukan pembeli justru berasal bukan dari iklan yang muncul di tokopedia.

Asumsinya pembeli ini berasal dari channel marketing saya yang lain, yaitu website. Tetapi di tokopedia hal ini tidak bisa saya konfirmasi.

Selain kasus diatas, saya juga merasakan ketidakpuasan saat terjadi website down. Beberapa bulan yang lalu Anda mungkin pernah mendengar atau membaca kabar jika dua marketplace tokopedia.com dan bukalapak.com sama-sama tidak bisa diakses baik oleh pembeli maupun penjual. Entah apa yang menyebabkannya tetapi bagi saya dan beberapa seller lain, wacana memiliki toko online sendiri kembali hadir.

Beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang melakukan pemesanan produk pada sebuah vendor secara online, saya iseng melihat kode sumber dari toko tersebut. Sepintas kode sumber dari toko tersebut terlihat mudah untuk dicontoh akan tetapi jika diterapkan ke plugin woocommerce yang saya miliki,

… website saya jadi tidak bisa diakses.

Saya kembali ke toko vendor saya tersebut dan kali ini saya melihat ada sebuah icon yang tidak menggambarkan toko tersebut. Saya klik iconnya dan kemudian saya dibawa ke sebuah website yang bernama jejualan.com.

Di website yang menyediakan jasa pembuatan toko online ini saya melihat fitur-fitur basic yang dibutuhkan oleh sebuah toko cukup lengkap. Paling tidak ketika saya menjadi pembeli di vendor saya tersebut.

Fitur-fitur sebuah toko online yang saya inginkan disediakan di website tersebut. Mulai dari fitur check-out, ongkir dan kurir semua sesuai dengan yang saya butuhkan untuk toko online saya sendiri. Fitur yang belum saya coba hanya fitur voucher sebagai diskon. Karena vendor saya belum memberikan informasi tentang penggunaan voucher.

Selain memiliki fitur yang saya butuhkan software toko online ini juga memberikan program follow-up berupa sms reminder. Maksudnya begini. Ketika saya melakukan transaksi pembelian di toko vendor, secara otomatis saya mendapatkan reminder tentang transaksi yang saya lakukan. Saya membeli produk apa, dan harus melakukan pembayaran ke bank mana.

Fitur SMS REMINDER pernah saya rencanakan sama sekali tidak otomatis. Manual. Jadi begitu ada orang yang bertansaksi di toko saya, saya akan memberitahu pembeli kemana harus melakukan transfer dan pembelian produknya apa melalui nomor pribadi saya.

Saya berencana mencoba membuat toko online sendiri dengan jejualan ini. Meski tidak akan bisa membuat toko online gratis selamanya paling tidak saya bisa mengukur seberapa pantas harga yang ditawarkan oleh software toko online dengan target penjualan yang saya tetapkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s