Menulis dan Blogging

Kemarin saya chatting sama teman adek di padang.

Teman adek saya itu menceritakan banyak masalah nampaknya, jadilah saya tempat curhatannya.

Mulai dari masalah kuliah hingga masalah pribadi di ceritakannya.

Anaknya bocor juga, segala permasalahan disebutin.

Setelah beberapa lama beliau mengeluarkan uneg-uneg akhirnya saya memberikan sebuah solusi, yaitu menuliskan semua perasaannya dalam sebuah media blog.

Akan tetapi dia menolak dengan alasan ia tidak pandai merangkai kata.

Alasan klise menurut ane.

Toh temannya adek ane mempunyai kemampuan untuk berbicara panjang lebar hingga keluar topik.

Lagian kalo chatting kan ngetik kenapa juga bilang alasannya gak bisa membuat cerita.

Selama bersurfing ria di dunia maya ini ane sering menemukan blogging menjadi sebuah diary online pemiliknya.

Si pemilik yang dirundung masalah bahkan bisa mendapatkan solusi dari komen orang-orang yang membaca postingannya.

Selain itu pemilik posting yang mendapatkan masalah tadi akan merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia, akan banyak orang yang bersimpati jika anda mau untuk mengeluarkannya.

Paling tidak dengan sharing apa yang tertekan tersebut si pemilik blog akan membuat jiwanya sendiri sehat.

Ane pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa menulis dapat menjaga kesehatan (tapi judulnya lupa).

Seorang penyanyi barat juga dapat mengatasi penyakit jiwanya dengan membuat lirik lagu yang akhirnya lagu tersebut menjadi hits.

Yellow Wallpaper, sebuah cerpen yang menjadi santapan harian semasa ane kuliah juga diciptakan oleh pengarang yang pernah mengalami tekanan jiwa.

Mungkin beliau masih melihat kegiatan blogging adalah kegiatan yang tidak bermanfaat, setidaknya bagi beliau sendiri.

Tapi itulah penyakit manusia indonesia yang agak kronis.

Menulis menjadi sebuah ketakutan bagi mereka.

Yah termasuk ane sendiri.

Jangankan menulis, membaca saja kebanyakan orang lebih banyak membaca komik (termasuk ane juga).